
Beberapa hal yang perlu diperhatikan didalam pembelajaran konstruktivistik, yang pertama dalam setiap proses pembelajaran harus berada dalam konteks yang telah dirancang, dan juga harus bersifat realistis. Kedua, setiap materi mempunyai proses pembelajarannya sendiri-sendiri, jadi tidak selalu melakukan proses yang sama setiap pembelajaran. Selanjutnya, guru harus berupaya agar pelajaran tersebut dapat memberikan pengalaman didunia sosial/ keempat, mengkonstruksi pengalaman agar sang anak lebih mengingat pengetahuan yang dipelajarinya.
Teori konstruktivisme muncul karena semakin berkembangnya teknologi didunia. Karena IPTEK menjadi hal yang paling penting bagi berlangsungnya kehidupan saat ini, maka perubahan berdampak pada pembelajaran siswa di Negara Indonesia. Dahulu, system pembelajaran yang dilakukan mengenai behavioristik, yang merupakan suatu perilaku yang harus dibentuk pada diri siswa agar menjadi manusia yang bisa menghargai setiap perbedaan. Karena masyarakat Indonesia yang lebih dominan selalu ingin menyamakan status, maka dampak yang dihasilkan ialah jiwa yang tidak dapat mengendalikan setiap perilaku yang berbeda, meskipun didalam satu rumpun.
Namun saat ini perlu dikembangkan lagi pembelajaran yang lebih efektif, yakni mengubah perilaku tersebut menjadi perubahan yang lebih besar dan isinya harus mengarah kedalam proses. Maksudnya disini adalah, para siswa harus mempelajari sesuatu yang belum ia mengerti, menjadi kearah suatu hal yang lebih penting dibandingkan dengan fakta atau konsepnya. Kelebihan pembelajaran konstruktivistik ialah menjadikan para siswa dapat mengembangkan suatu gagasannya dan lebih percaya diri untuk menyampaikan sebuah ide.